MENGAPA JALAN LAHIR PERLU DIPANTAU?

Seperti jalan raya yang sulit dilalui dan bikin macet, jalan lahir pun mungkin saja sulit ditembus bayi. Mungkin jalan raya itu kurang lebar, jumlah kendaraannya terlalu banyak, ukuran mobilnya besar-besar, atau permukaannya tidak mulus. Sedangkan pada jalan lahir, kemacetan mungkin saja disebabkan kondisi janin, panggul yang sempit, plasenta yang letaknya menghalangi, serta infeksi di jalan lahir.

JANIN BESAR

Ukuran yang terlalu besar, yakni lebih dari 4.000 gram dapat menyebabkan bayi sulit dilahirkan secara normal. Apalagi jika jalan lahir ibunya tergolong sempit. Kalaupun tenaga ibu besar dan panggulnya normal, namun bila berat tubuh janin tergolong besar, tetap saja ia akan tertahan di jalan lahir. Tak heran kalau pembukaan jadi tak maju-maju alias mengalami persalinan macet.

Selain karena berat janin yang berlebihan, persalinan macet bisa terjadi akibat posisi bayi yang tak semestinya. Entah posisi sungsang atau melintang maupun karena posisi kepala berubah dan tak kunjung masuk ke jalan lahir gara-gara tertahan di tulang-tulang panggul. Demikian pula bila denyut janin lemah atau malah kacau. Dikhawatirkan si ibu tak dapat menjalani persalinan normal.

PANGGUL SEMPIT

Di usia kehamilan 36 minggu, dokter kebidanan dan kandungan umumnya akan memeriksa kondisi panggul ibu. Salah satu tujuan pemeriksaan ini adalah memastikan apakah ibu dapat melahirkan secara normal atau tidak. Pemeriksaan secara klinis dilakukan dengan cara menghitung jarak dari tulang kemaluan hingga bagian tulang belakang (promontorium). Dari angka ini dapat diketahui lebar pintu atas panggul dan pintu tengah panggul. Dikategorikan normal bila berjarak minimal 11 cm. Sedangkan jika kurang dari angka itu, disebut panggul sempit.

Panggul normal lazimnya berbentuk ginekoid, yakni bila pintu atasnya berbentuk hampir membulat. Selain karena panggul memang sempit, kesulitan persalinan umumnya juga terjadi bila panggul mengalami kelainan bentuk. Misalnya bentuk pintu atas panggul lonjong namun menyempit di bagian belakang. Ketidaknormalan lainnya adalah bila pintu atas panggul hampir berbentuk segitiga.

Disamping pemeriksaan klinis berupa pengukuran promontorium, pemeriksaan lain yang bisa dilakukan adalah rontgen. Hasil rontgen ini kemudian dianalisis untuk mengetahui ukuran panggul, yaitu pintu atas panggul, pintu tengah panggul dan pintu bawah panggul. Meski panggul ibu dikategorikan tidak normal, namun masih ada kemungkinan bisa melahirkan secara normal. Tentu saja ini pun bergantung pada ukuran janin apakah sesuai dengan kapasitas panggul si ibu. Konkretnya, jika ukuran bayi relatif kecil, tentu peluang bisa melahirkan normal cukup besar. Apalagi bila posisi kepala janin sudah berada di bawah dan masuk ke pintu panggul.

Di sisi lain, power atau kekuatan ibu saat mengejan juga memengaruhi kesuksesan melahirkan normal meskipun panggulnya tergolong sempit. Begitu juga sebaliknya. Kendati panggulnya termasuk kategori besar dan luas, tapi bila daya mengejannya lemah, tentu saja bayi akan relatif sulit keluar lewat jalan lahir.

Faktor lain yang ikut mendukung ibu berpanggul sempit untuk dapat melahirkan normal adalah daya moulage. Perlu diketahui, rangkaian tulang yang membentuk kepala janin masih belum menyatu. Kondisi inilah yang memungkinkan kepalanya bisa menciut dan mempermudah proses persalinan. Nah, begitu bayi lahir, kepalanya akan kembali menyesuaikan diri ke bentuk semula. Kalaupun semua upaya sudah dilakukan dan bayi tak kunjung bisa lahir secara normal, entah lantaran daya mengejan ibu lemah, bayi tergolong berukuran besar, ataupun panggul sempit, mau tak mau si ibu mesti melahirkan dengan operasi sesar.

PLASENTA SALAH TEMPAT

Normalnya plasenta terletak di bagian puncak atau atas rahim (fundus). Bisa saja agak ke kiri atau ke kanan sedikit, tetapi tidak sampai meluas ke bagian bawah apalagi sampai menutupi jalan lahir. Ada beberapa kendala yang mungkin terjadi terkait letak plasenta ini, antara lain:

1. Placenta previa totalis bila plasenta menutupi seluruh jalan lahir. Pada posisi ini, jelas tidak mungkin janin dilahirkan per vaginam atau secara normal karena berisiko terjadinya perdarahan yang sangat hebat.

2. Placenta previa partialis bila hanya sebagian atau separuh plasenta yang menutupi jalan lahir. Pada posisi ini pun risiko perdarahan masih besar meski biasanya tetap tidak bisa dilahirkan secara normal.

3. Placenta previa marginalis bila hanya bagian tepi plasenta yang menutupi jalan lahir. Bayi bisa dilahirkan normal. Akan tetapi perlu diketahui bahwa risiko perdarah-an tetap besar.

4. Low-lying placenta bila plasenta letak rendah. Kadang disebut juga dangerous placenta karena posisinya hanya beberapa mm atau cm dari tepi jalan lahir. Risiko perdarahan tetap ada, namun boleh dibilang kecil. Ibu dapat melahirkan secara normal dengan aman asal hati-hati.

Diagnosis mengenai letak plasenta ini mulai dipastikan sejak kira-kira umur kehamilan 26-28 minggu, dimana mulai terbentuk SBR (Segmen Bawah Rahim). Leher rahim yang semula masih berbentuk seperti corong akan mulai memipih. Dari perubahan inilah bisa terjadi plasenta “berpindah” atau lebih tepatnya bergeser menjauhi jalan lahir, seolah-olah bergerak ke atas. Ini yang diharapkan terjadi pada ibu nantinya. Tentu saja penilaian optimal bila dilakukan saat mendekati waktu persalinan untuk memastikan di mana posisi plasenta.

INFEKSI DI JALAN LAHIR

Infeksi terjadi apabila mikroorganisme seperti bakteri, jamur, atau lainnya tumbuh berlebihan pada vagina. Sebagian dari mikroorganisme ini memang merupakan penghuni jalan lahir dan tetap berada dalam keseimbangan yang baik pada vagina yang bersih dan sehat. Infeksi juga bisa terjadi karena kebersihan yang kurang terjaga. Jadi, jangan anggap remeh gangguan dan kelainan di jalan lahir. Sebab efeknya tak cuma bisa menghambat proses persalinan, tetapi juga berakibat jauh lebih fatal.

Infeksi pun dikhawatirkan akan menulari si bayi. Contohnya bila vagina ibu terinfeksi gonorhea, maka bayi yang dilahirkan melaluinya kemungkinan besar akan mengalami kebutaan karena kuman yang menyerang termasuk ganas dan memiliki enzim yang mampu menembus kornea. Biasanya penularan mulai terlihat sehari atau dua hari setelah bayi dilahirkan dengan gejala yang sangat parah. Bahkan, sekadar disentuh pun beleknya akan keluar dan sangat menular. Bayi dengan infeksi seperti ini biasanya akan diisolasi dan diberi antibiotik khusus setiap jam.

Infeksi lain di jalan lahir yang juga diduga bisa menular ke bayi di antaranya herpes genitalis, condyloma lata (kondiloma sifilitik yang lebar dan pipih), condyloma acuminata (infeksi yang menimbulkan massa mirip kembang kol di kulit luar kelamin wanita) dan lainnya.

3P” PENTING

Ada 3 pemeriksaan (3P) untuk menentukan apakah ibu bisa menjalani persalinan normal atau tidak.

1) Pemeriksaan fisik melalui rabaan tangan pada perut ibu. Tujuannya mengetahui sejauh mana bagian terbawah tubuh janin sudah masuk ke dalam rongga panggul.

2) Pemeriksaan dalam dengan memasukkan jari dokter/bidan ke dalam vagina dan memeriksa panggul bagian dalam secara klinis.

3) Pemeriksaan ultrasonografi (USG) untuk mengetahui ukuran dan taksiran berat janin.

Selain itu, proses persalinan bergantung pula pada 3P yang berarti power, passage, dan passanger. Proses persalinan bisa berjalan lancar jika ketiga komponen tersebut dalam kondisi baik. Ukuran bayi (passanger) sebaiknya tak terlalu besar agar bisa melalui jalan lahir (passage). Didukung oleh kontraksi (power) yang teratur dan efektif sehingga mampu membuka jalan lahir. Ketiga hal tersebut sudah harus diketahui sebelum persalinan.

Bila ada hambatan dan gangguan pada power, passage, atau passanger, maka tindakan selanjutnya disesuaikan berdasarkan hasil observasi dokter. Ia yang akan menilai apakah sudah waktunya bersalin atau belum. Kalau kontraksinya sesuai dengan proses persalinan akhir, namun pembukaannya tak ada, maka harus dicari masalahnya. Bisa jadi bayinya melintang atau posisi kepalanya tidak mendukung. Dari situ dokter akan memutuskan apakah perlu dilakukan tindakan sesar atau tidak.

Itulah mengapa ibu hamil sebaiknya memeriksakan kandungannya secara rutin ke bidan ataupun dokter yang dipercaya menanganinya. Dengan demikian bila ada kelainan pada jalan lahir bisa diketahui dengan segera dan persalinan bisa ditangani sebaik-baiknya.

Hilman Hilmansyah. Ilustrator: Pugoeh

Konsultan ahli:

Dr. Andon Hestiantoro, Sp.OG, KFER

dari Bagian Imunoendokrinologi, Departemen Obstetri dan Ginekologi, FKUI/RSCM Jakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: