Masalah BB selama kehamilan

Kenaikan berat badan selama hamil tak boleh disepelekan, lo, Bu. Baik kurang atau berlebih ada risikonya.

“Astaga, kamu, kok, gede banget. Naik berapa kilo, sih?” Pertanyaan seperti itu hampir setiap hari didengar Ibu Nina – yang sedang hamil – saat bertemu dengan teman atau kerabat.

 

Karena penasaran, ia pun mengkonsultasikannya dengan dokter kandungan yang menangani. “Dok, berapa, sih, pertambahan berat badan normal selama hamil? Terus terang, saya cemas dengan pertambahan berat badan saya yang meningkat terus. Bukan cuma jadi bahan pertanyaan teman-teman, tapi tubuh pun terasa rapuh. Saya mudah sekali jatuh atau terpeleset. Saya takut hal ini akan mengganggu kehamilan saya. Sebelum hamil, bobot saya 63 kg, tapi selama kehamilan yang menginjak 3 bulan ini, bobot saya naik jadi 75 kg. Saya sebenarnya ingin diet, Dok, tapi takut berpengaruh pada janin saya. Jadi, bagaimana baiknya, ya, Dok?”

 

Sering, kan, keluhan Ibu Nina dialami juga ibu-ibu hamil lain. Jadi, sebetulnya berapa ideal kenaikan berat badan dalam kehamilan?

 

BOBOT SAAT START

 

Sebenarnya, terang dr. Hj. Hasnah Siregar, Sp.OG dari Bagian Kebidanan/Penyakit Kandungan RSAB Harapan Kita, Jakarta, jika memang ingin segalanya lancar selama kehamilan, ibu hamil harus mempertimbangkan masalah berat badan sejak sebelum kehamilan terjadi.

 

“Jadi, saat start hamil, idealnya berat badan ibu antara 45-65 kg.” Nah, jika badan ibu sangat kurus (kurang dari 45 kg), sebaiknya sebelum hamil menaikkan berat badannya dulu hingga mencapai 45 kg. “Begitu juga sebaliknya, bila gemuk sekali hingga lebih dari 65 kg, sebaiknya ia menurunkan berat badannya hingga di bawah 65 kg.” Dengan cara ini diharapkan kehamilannya nanti akan berkualitas.

 

Sayangnya, terang Hasnah, sangat jarang kaum wanita yang merencanakan hal ini sebelum start hamil. “Umumnya mereka datang ke dokter kandungan setelah kehamilan terjadi. Tidak peduli bagaimana berat badannya saat sebelum hamil.” Nah, kalau berat badan tersebut kurang dari 45 kg atau lebih dari 65 kg, maka ibu tersebut sudah membawa risiko satu dalam kehamilannya. “Risiko satu memang tidak fatal akibatnya. Barulah kalau sudah risiko 3 ia butuh perhatian penuh.”

 

Namun demikian, saat memulai kehamilan dengan dengan kondisi low risk, bukan berarti bahwa di tengah masa kehamilannya tidak terjadi high risk (risiko tinggi). Sebab, terang Hasnah, dalam obstetri semuanya moment diagnosa. “Tidak bisa diagnosa bulan ini menjadi diagnosa bulan depan. Bulan ini oke, belum tentu bulan depan masih tetap oke. Makanya sering, kan, terjadi, kalau pada mulanya dokter meramalkan bisa melahirkan normal, ternyata saat persalinan diperlukan tindakan sesar.”

 

Jadi, bisa saja yang tadinya low risk, bila sepanjang kehamilannya ibu mengalami stres berat, misalnya, tetap saja kenaikan berat badannya tidak terjadi, sehingga timbul high risk.

 

KENAIKAN NORMAL

 

Lantas, berapakah kenaikan yang harus dicapai setiap bulannya selama kehamilan berlangsung? Nah, Bu, jika memulai kehamilan dengan berat badan ideal, maka kenaikan berat badan normal adalah pada 5 bulan pertama kehamilan wanita hamil harus mengalami peningkatan sejumlah 1 kg setiap bulannya. “Selanjutnya, sesudah usia kehamilan mencapai 5 bulan, kenaikannya harus 2 kg per bulan.”

 

Idealnya kenaikan normal selama 9 bulan kehamilan antara 12-15 kg jika saat start kehamilan, ia berbobot antara 45-65 kg. Sementara bagi kelompok ibu yang berat badannya saat start hamil di bawah 45 kg atau sangat kurus maka pertambahan berat badan yang dianjurkan antara 12,5-18 kg. Sedangkan, bagi kelompok ibu dengan berat badan saat start hamil lebih dari 65 kg, kenaikan yang dianjurkan hanya antara 7-11,5 kg.

 

Sementara buat ibu yang mengalami kehamilan kembar, peningkatan berat badan harus lebih tinggi dibandingkan kehamilan biasa. “Kenaikan berat badan ibunya harus 10 persen lebih besar di atas rata-rata normal tadi.”

 

BILA KENAIKAN TERLALU CEPAT

 

Nah, kalau ternyata kenaikan berat badan tidak sesuai rumus ideal pertambahan berat badan dalam kehamilan, misalnya, sangat cepat pertambahannya, maka bukan berarti tak ada dampak khusus. “Ibu bisa mengalami keracunan kehamilan, pre-eklampsia, maupun diabetes.” Bukan itu saja, tubuh ibu hamil pun bisa mengalami bengkak, entah itu di kaki maupun perutnya. Selain juga mengakibatkan ibu hamil lekas lelah dan sulit menjaga keseimbangan badan.

 

Umumnya peningkatan yang cepat dialami ibu hamil pada akhir-akhir masa kehamilannya. Bila hal ini terjadi, hati-hati, karena bisa jadi indikasi pre-eklampsia. Sebab, pertambahan berat badan secara berlebihan, apalagi dalam waktu singkat, dapat menjadi pertanda awal terjadinya pre-eklampsia (penyakit darah tinggi dalam kehamilan) atau penyakit kencing manis (diabetes). Untuk membuktikannya diperlukan pemeriksaan laboratorium tambahan.

 

Biasanya, terang Hasnah, kalau berat badan mengalami peningkatan berlebihan selama bulan tertentu, hingga 5 kg misalnya, maka dokter akan menyarankan untuk diet. Dua bulan berikutnya berat badan ibu hamil harus stabil (tidak boleh naik lagi dan juga tidak boleh turun). “Jadi, bertahan terus segitu sampai beberapa bulan. Hal ini bisa dilakukan dengan mengatur kembali daftar makanannya.”

 

Pertambahan berat yang berlebihan, selain bisa mengalami keracunan kehamilan, janin juga bisa mengalami pertumbuhan terhambat. “Bila ibunya odem dan terjadi hipertensi, tentunya pengiriman makanan ke janin jadi berkurang karena adanya penyempitan pembuluh darah. Nah, kalau penyempitan pembuluh darah ini menghebat, maka bisa jadi akhirnya mengakibatkan kematian janin dalam rahim.” Untuk itulah maka ibu diminta diet dan menjaga berat badannya. Diet yang terutama untuk kelebihan berat badan biasanya dengan cara mengurangi lemak dan karbohidrat. “Mengurangi mengkonsumsi gula, nasi, sirop, keju, ikan asin, gorengan, juga kue-kue. Sementara untuk protein, seperti ikan, daging, telur, kacang-kacangan, juga buah-buahan tidak perlu dikurangi. Karena ini sangat diperlukan bagi pertumbuhan janin dalam kandungan. Lagi pula, bahan-bahan makanan tersebut, kan, tidak membuat ibu jadi gemuk.”

 

Diet rendah lemak dan karbohidrat menjadi satu-satunya cara yang bisa dilakukan ibu hamil. “Tidak disertai dengan senam aerobik, lo. Bila ingin senam harus mendapat izin dokter.” Sebab, harus dilihat dulu apakah kondisi kehamilannya memungkinkan atau tidak untuk melakukan senam? Jika ada indikasi medis, tentu tidak boleh senam. Misalnya, mempunyai bekas luka operasi sesar yang baru berumur beberapa bulan, atau pernah terjadi keguguran berulang.

 

BILA TAK KUNJUNG NAIK

 

Namun jika terjadi sebaliknya, artinya berat badan tak kunjung naik atau kenaikannya sangat kurang dari ketentuan, maka dokter pun akan menyarankan ibu untuk diet tinggi lemak, karbohidrat, dan protein. Dengan kata lain ibu hamil harus banyak mengkonsumsi makanan. “Ia akan dianjurkan untuk mengkonsumsi es krim, alpokat, cakes, serta makanan berkarbohidrat dan berlemak lainnya.” Hal ini akan dilakukan sampai berat badannya mengalami peningkatan. Bila bulan berikutnya ternyata kenaikannya sudah cukup, maka dietnya pun harus stop.

 

Sulitnya peningkatan berat badan, terang Hasnah, biasanya dialami ibu hamil pada bulan-bulan awal kehamilannya. “Karena pada saat 4 bulan pertama kehamilan, biasanya ibu sering merasa mual dan muntah, yang menyebabkan ia kehilangan nafsu makan.”

 

Nah, kalau hal ini terus berlangsung hingga kehamilan trimester berikutnya, bukan tidak mungkin bayi akan terganggu gizinya. “Bisa jadi bayinya mengalami pertumbuhan janin terhambat.”

 

Tidak adanya pertumbuhan berat badan, bukan hanya terjadi pada ibu hamil yang kehilangan nafsu makan. “Tapi ada juga, kok, yang sebenarnya makannya banyak, tapi pertumbuhan beratnya tidak naik. Nah, kalau ini terjadi, maka harus dicek lagi komposisi makanannya. Jangan-jangan makanan yang dikonsumsinya tak bergizi, asal kenyang saja.” Jika kualitas makanan yang dikonsumsi sudah baik, tapi ia tetap saja kurus, maka harus dicek kembali adakah hal yang tak beres di alat pencernaannya atau di giginya? Sebab, gigi yang mengalami kerusakan, kadang mengakibatkan makanan tidak dikunyah dengan baik, sehingga tidak dapat dicerna dan diserap secara sempurna oleh tubuhnya. Sehingga janin tak mendapat suplai makanan dengan baik. “Akibatnya, pertumbuhan janin pun jadi terhambat.”

 

Nah, Bu, agar hal-hal di atas tidak terjadi, maka selama kehamilan, terang Hasnah, sebaiknya ibu harus rajin kontrol ke dokter, juga menuruti apa yang disarankan dokter. “Kalau kata dokter harus diet, ya, dilaksanakan dengan benar. Jika dokternya jeli dan pasiennya rajin kontrol, serta tidak mempunyai penyulit selama kehamilannya, entah itu diabetes ataupun gondong, maka biasanya berat yang standar itu pun pasti akan tercapai, kok.”

 

 

 

 

 

Indah Mulatsih

 

MEMPENGARUHI PERSALINAN

 

Risiko kelebihan berat badan pun bisa mempengaruhi proses persalinan. “Bisa jadi tenaganya tidak kuat dalam mengejan. Namun demikian, bukan berarti kalau ia overweight, pasti persalinannya dengan operasi, lo. Karena operasi hanya dilakukan kalau ada indikasi medis saja. Misalnya, janinnya tak mau turun ke jalan lahir atau posisinya melintang. Jadi, kalau ibu kuat melahirkan normal, ya, akan kita bantu untuk melahirkan normal,” jelas dr. Hasnah, Sp.OG.

 

Memang tidak selalu ibu hamil yang overweight, terang Hasnah, mengalami pre-eklampsia atau diabetes. “Ada juga kenaikan berat badannya hingga mencapai 30 kg, tapi karena pankreasnya kuat, maka tidak ada penyakit-penyakit tertentu yang menyertainya. Persalinannya pun berjalan normal.”

 

 

 

IBU KECIL, JANIN BESAR

 

Ibu kecil tidak selalu menunjukkan janinnya ikut kecil, lo. “Sebab, ada juga kemungkinan ibunya kecil, tapi janinnya besar. Mungkin karena fungsi ari-arinya maksimal, air ketubannya bagus, maka semuanya bagus,” terang dr. Hasnah, Sp.OG.

 

Tentu saja janin besar dikatakan bagus apabila sesuai umurnya. “Asalkan tidak makrosomi (bayi sangat besar, red.). Karena kalau makrosomi, maka dicurigai ibunya menyimpan penyakit diabetes. Mungkin saat itu diabetesnya tidak timbul, tapi suatu ketika bisa muncul. Makanya ibu-ibu yang melahirkan bayi di atas 4 kg, sebaiknya hati-hati. Suatu ketika bisa saja ia diabetik.”

 

Sebaliknya ibu besar belum tentu janinnya ikut besar. “Sebab, ada pula ibunya gede, tapi janinnya kecil. Bahkan kecil sekali yang menjurus pada pertumbuhan janin terhambat.” Nah, kalau hal ini yang terjadi, maka harus diteliti penyebabnya. Apakah plasentanya tidak ada masalah? Apakah suplai makanan ke bayi berjalan lancar atau ada masalah? “Untuk itu bisa dilihat lewat USG.”

 

 

BERAT JANIN

 

Pertumbuhan janin yang normal sesuai usianya, menurut dr. Hasnah, Sp.OG sebagai berikut : pada usia kehamilan 20 minggu, maka janin kira-kira seberat 1/2 kg. Pada usia kehamilan 36 minggu, ia harus mencapai 2,5 kg. Selanjutnya, mendekati kelahiran, beratnya harus mencapai 3 kg.

 

Nah, kalau pertumbuhan janin tersebut tidak sesuai dengan rumus di atas, maka harus diteliti sebab-sebabnya. “Apakah ada kelainan anggota tubuh atau tidak, misalnya ada kelainan ginjal yang menyebabkan hidramnion atau bagaimana sistem pencernaannya. Semuanya harus diteliti lewat USG.”

KOMPONEN PERTAMBAHAN BERAT BADAN

 

Komponen Pertambahan rata-rata(pon)
bayi 7,5
rahim 2
Plasenta 1,5
Cairan amniotik 2
Peningkatan Volume Darah Ibu 3,5
Peningkatan Payudara Ibu 1,5
Simpanan lemak dan protein (ibu) 4
Peningkatan cadangan cairan tubuh ibu 4

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: